Tuesday, January 17, 2012

Sejarah Kota Pati

SEJARAH KOTA PATI 


SEJARAH KOTA PATI

BAGIAN DARI KERAJAAN MAJAPAHIT

Kabupaten Pati, adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Pati. Luas wilayah Kabupaten Pati yaitu sekitar 1.473,97 Km² yang terletak pada 6,5 s/d 7,0 Lintang Selatan dan 110,5 Bujur Timur berada pada ketinggian dari 0 m sampai 520 m di atas permukaan air laut. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Rembang di timur, Kabupaten Blora dan Kabupaten Grobogan di selatan, serta Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara di barat. Ibukota Kabupaten Pati terletak tengah-tengah wilayah kabupaten, yang berada di jalur pantura Semarang-Surabaya, sekitar 75 Km sebelah Timur Semarang. Sebagian besar wilayah Kabupaten Pati adalah dataran rendah. Bagian selatan berupa perbukitan, terdapat sungai besar yaitu sungai Ngantru (http:// wikipedia. Sejarah Kabupaten pati.com).
§ Sejarah Kabupaten Pati
Sejarah kabupaten Pati berpangkal tolak dari beberapa gambar yang terdapat pada lambang Daerah Kabupaten pati yang sudah disahkan dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1971 yaitu gambar yang berupa ”Keris Rambut Pinitung Dan Kuluk Kanigara”.
Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1292 Masehi di Pulau Jawa vakum penguasa pemerintahan yang berwibawa. Kerajaan Pajajaran mulai runtuh, Kerajaan Singasari surut (penyerangan oleh Jayakatwang, pada bulan Mei dan Pertengahan bulan Juni 1292), sedangkan Kerajaan majapahit belum berdiri. Dengan keadaan yang seperti itu, muncullah penguasa lokal yang mengangkat dirinya sebagai adipati, di wilayah kekuasaannya (di pantai utara Pulau Jawa Tengah sekitar Gunung muria) yang disebut Kadipaten (http:// wikipedia. Sejarah Kabupaten pati.com).
Seperti halnya yang telah disebutkan dalam Babad Pati, disitu dijelaskan bahwa tidak lama kemudian Keraton Pajajaran kalah, kerajaan tanah Jawa lalu pindah ke Majapahit, adapun yang menjadi rajanya adalah Brawijaya ke II, yaitu Jaka Pekik putra dari Jaka Sukuh. Pada waktu itu Kyai Ageng Pati bernama Tambranegara menghadap ke majapahit (S. Dibyo, 1980: 207).
Di daerah tersebut terdapat dua penguasa lokal, yaitu (1.) penguasa kadipaten Paranggaruda, oleh Adipati Yudhapati. Kadipaten Paranggaruda wilayahnya berada di daerah selatan sungai Juwana. wilayah kekuasaan Kadipaten Paranggaruda ini meliputi daerah yang sekarang merupakan kecamatan Batangan, Jakenan, Pucakwangi, Jaken, Winong, Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Gabus dan sebagian wilayah Rembang bagian barat. Bekas pusat pemerintahan Parnggaruda berada di Desa Goda Kecamatan Winong, (2.) Penguasa kadipaten Carangsoka, oleh Adipati Puspa Adungjaya. Wilayah kekuasaan Kadipaten Carangsoka ini meliputi daerah yang sekarang merupakan Kecamatan Trangkil, Juwana, Pati, Margorejo, Tlogowungu, Gembong, Wedarijaksa, Margoyoso, Tayu, Dukuhseti, Gunungwungkal, Cluwak dan sebagian meliputi wilayah Jepara bagian timur. Bekas pusat pemerintahan Carngsoka berada di Desa Sukoharjo Kecamatan Wedarijaksa (Ahmadi, 2004: 2).
Kedua Kadipaten tersebut hidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai untuk melestarikan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan. Kedua adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra dan putri mereka. Utusan Adipati Paranggaruda untuk meminang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama Sapanyana. keharmonisan diantara keduanya tidak berlangsung lama.
Hal ini disebabkan karena dari pihak Penguasa kadipaten paranggarudu ingin melumpuhkan kewibaan Kadipaten Carangsoka dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di majasemi. Akan tetapi rencana tersebut gagal, karena senjata itu berhasil direbut kembali oleh Sondong Makerti dari Wedari. Selain itu, permusuhan ini juga disebabkan karena ketika pesta pernikahan diantara keduanya berlangsung mempelai wanita melarikan diri bersama Dalang Sapanyana. Karena merasa dipermalukan, Adipati Yudhapati menyatakan permusuhan dan peperangan tidak dapat dielakkan lagi. Peperangan ini, dimenangkan dari pihak penguasa Kadipaten Carangsoka. Kemenangan ini karena adanya bantuan dari Raden Kembangjaya, untuk membalas jasanya akhirnya Raden Kembangjaya dinikahkan dengan Rara Rayungwulan. Untuk mengatur pemerintahan yang semakin luas wilayahnya ke bagian selatan, Adipati Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri. Dengan mengganti nama ”Kadipaten Pesantenan” dengan gelar Adipati Jayakusuma.
Untuk dapat mengembangkan pembangunan dan memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara (pewaris tahta dari Adipati Jayakusuma) memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa Kemiri menuju ke arah barat yaitu, di desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati.
Keberadaaan Kadipaten Pesantenan merupakan usaha untuk mempersatukan Kadipaten Paranggadu, Carangsoka, dan Majasemi yang penyatuannya dilakukan oleh Raden Kembangjaya pada tahun 1292, dengan surya sengkala: ”mulat gapura manembah gusti”. Penyatuan ini merupakan usaha suka rela, bukan atas dasar pemaksaan dan bukan hadiah dari siapapun.
Dalam prasasti Tuhannaru (1245 Saka), yang diketemukan di desa Sidateka, wilayah Kabupaten Majakerta yang tersimpan di museum Trowulan. Prasasti itu terdapat pada delapan Lempengan Baja, dan bertuliskan huruf Jawa kuna. Pada lempengan yang keempat antara lain berbunyi bahwa : ..... Raja Majapahit, Raden Jayanegara menambah gelarnya dengan Abhiseka Wiralanda Gopala pada tanggal 13 Desember 1323 M. Dengan patihnya yang setia dan berani bernama Dyah Malayuda dengan gelar "Rakai", Pada saat pengumuman itu bersamaan dengan pisuwanan agung yang dihadiri dari Kadipaten pantai utara Jawa Tengah bagian Timur termasuk Raden Tambranegara berada di dalamnya.
§ Situs-situs Peninggalan Bersejarah Sebagai Bukti Sejarah Kota Pati Bagian Dari Kerajaan Majapahit
a. Pintu Gerbang Majapahit
Peninggalan sejarah berupa Pintu Gerbang, terbuat dari kayu jati. Pintu gerbang ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang diangkat oleh Kebo Nyabrang sebagai persyaratan untuk diakui sebagai Putra Sunan Muria. Namun setelah tiba di Desa Rondole, Kebo Nyabrang tidak mampu lagi mengangkat dan tidak mampu melanjutkan perjalanan kemudian menunggui pintu gerbang tersebut sampai meninggal dunia. Terletak di Desa Rendole, Kecamatan Margorejo, jarak dari kota Pati 4 Km.Berdekatan dengan obyek wisata Sendang Tirta Sani.
b. Prasasti I Rongkap
Pada Prasasti ini terdapat tulisan tanggal 25 Oktober 901 M (823 Saka) yang ditemukan di desa Rangkah (Ngranggah) di daerah Pati Ayam yang terdiri dari lempengan baja sebanyak delapan lempengan.
c. Prasasti Prawata
Prasasti ini ditemukan di daerah Wotan, kecamatan Sukolilo. Prasasti ini ada pada zaman Erlangga.
d. Prasasti Gajihan
e. Prasasti Tuhannaru
Prasasti ini, diketemukan di desa Sidateka, wilayah Kabupaten Majakerta yang tersimpan di museum Trowulan. Prasasti itu terdapat pada delapan Lempengan Baja, dan bertuliskan huruf Jawa kuna.
f. Prasasti Waringin Pitu
§ Pati Bagian dari Majapahit
Keterkaitan Kabupaten Pati dengan kerajaan Majapahit yaitu (a.) adanya pengakuan dari Raja Jayanegara dari Majapahit mengakui wilayah kekuasaan para Adipati itu dengan memberi status sebagai tanah predikan, dengan syarat bahwa para Adipati itu setiap tahun harus menyerahkan upeti berupa bunga.
Bahwa Adipati Raden Tambranegara juga hadir dalam pisuwanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K.M. Sosrosumarto dan S.Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada : 12 yang lengkapnya berbunyi : ..... Tan alami pajajaran kendhih, keratonnya ing tanah Jawa angalih Majapahite, ingkang jumeneng ratu, Brawijaya ingkang kapih kalih, ya Jaka Pekik wasta, putra Jaka Suruh, Kyai Ageng Pathi nama, Raden Tambranegara sumewa maring Keraton Majalengka. Artinya Tidak lama kemudian Kerajaan Pajajaran kalah, Kerajaan Tanah Jawa lalu pindah ke Majapahit, adapun yang menjadi rajanya adalah Brawijaya II, yaitu Jaka Pekik namanya, putranya Jaka Suruh. Pada waktu itu Kyai Ageng Pati, yang bernama Tambranegara menghadap ke Majalengka, yaitu Majapahit, (b.) bukti keterkaitan antara Pati dan Majapahit yang lain, yaitu adanya kerjasama diantara keduanya dalam perdagangan serta membuka hubungan dengan bandar-bandar Tuban, Jungpura (Jepura sekarang), Pekuwon (daerah Juwana) dan Bergota, (c.) Hadirnya Raden Tambranegara Adipati Pati dalam pisowanan agung di Majapahit. Pisowanan agung yang dihadiri oleh Raden Tambranegara ke Majapahit pada tanggal 13 Desember 1323, maka diperkirakan bahwa pindahnya Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan dan menjadi Kabupaten Pati itu pada bulan Juli dan Agustus 1323 M (Masehi). Ada tiga tanggal yang baik pada bulan Juli dan Agustus 1323 yaitu : 3 Juli, 7 Agustus dan 14 Agustus 1323.
Berdasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa keterkaitan antara Kota Pati dengan Kerajaan Majapahit sangat erat hubungannya. Hal ini, berdasarkan bukti-bukti yang telah dijelaskan di atas.
Rujukan
Ahmadi. 2004. Sejarah Pati. Pati: Dinas Pendidikan Kabupaten Pati.
Poesponegoro, Marwati Djoned. 1993. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
Sosrosumarto, K.M, dan Dibyasudiro. 1980. Kitab Babad Pati. Pati: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik indonesia.
Tim Penyusun Hari Jadi. 1994. Sejarah Hari Jadi Kabupaten Pati. Pati: Seminar Sehari Hari Jadi Kabupaten Pati
http:// wikipedia. Sejarah Kabupaten pati.com.

No comments:

Post a Comment